Tiga Hari di Punaga
Cerita tiga hari di Punaga, Takalar - dari penelitian komunitas Sayyid di Cikoang hingga menikmati seafood dan keindahan Sulawesi Selatan.

Punaga, sebuah desa yang terletak di daerah paling selatan di jazirah Sulawesi Selatan. Jika dibuka di peta, desa ini berada di ujung jari kaki kiri Sulawesi Selatan bersama dengan Laikang dan Teluk Puntondo. Punaga yang pantainya menjadi tempat syuting film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck pada tahun 2013 lalu ini merupakan kampung tempat tinggal sahabat saya sejak SMA, Irsak. Sewaktu SMA, kami mempunyai tim beranggotakan tiga orang (bersama Rukman Muslimin) yang aktif mengikuti berbagai macam kompetisi ilmiah antar SMA di kota Makassar. Kami sering berkunjung ke Punaga dan Puntondo untuk melakukan penelitian (yang lebih tepat disebut studi pustaka) tentang kerusakan terumbu karang di Pantai Punaga. Di Puntondo, kami selalu mengunjungi PPLH Puntondo untuk mencari sumber pustaka di perpustakaan mereka. Di perpustakaan itu ada banyak sekali majalah National Geographic yang harganya memang tidak bisa kami jangkau waktu itu. Saya masih merasa berdosa, ada sekitar 4-6 buah majalah yang saya 'pinjam' -- namun belum saya kembalikan hingga sekarang, 7 tahun berlalu. Haha.. Kami juga kenal dengan pak Kasim, alumni Fakultas Kelautan Unhas yang merupakan warga asli Puntondo, menikah dengan perempuan Puntondo dan tinggal di sana. Pak Kasim pernah kami jadikan pembimbing penulisan karya tulis kami tentang kerusakan terumbu karang di Punaga.

Sekitar dua pekan lalu, saya mengunjungi lagi Punaga dan Puntondo. Kali ini saya berangkat bersama pak Dicky Sofjan, mba Any (juga di ICRS), pak Supa (dosen Sastra Arab Unhas) dan mas Imran (mahasiswa S3 ICRS, asli Gowa). Saya pernah bekerja di IIWS (Indonesian Interfaith Weather Station) dengan pak Dicky sebagai principal investigator-nya. Kedatangan pak Dicky dkk ke Makassar adalah untuk meluncurkan edisi Bahasa Indonesia buku terbarunya, "Agama, Kebijakan Publik dan Transformasi Sosial di Asia Tenggara", yang digelar tanggal 24 Januari 2017 di Fakultas Sastra Unhas.
Kembali ke Punaga.
Tujuan ke Punaga adalah untuk melakukan semacam preliminary research terhadap komunitas Sayyid dan perayaan tahunan Maudu' Lompoa alias Maulid Besar di Cikoang, Takalar. Karena tidak ada kenalan di Cikoang, kami menginap di rumah Irsak di Punaga, sekitar 2 km dari Cikoang.

Penelitian di Cikoang
Di Cikoang, kami awalnya mendatangi rumah Tuan(g) Jama', namun Tuang Jama' menyarankan kami untuk mendatangi Karaeng Opua, pemimpin komunitas Sayyid di Cikoang. Namun ternyata Karaeng Opua sedang sakit, sehingga Tuang Jama' membawa kami ke tokoh Sayyid yang lain, yaitu Tuang Molla. Di sinilah kami akhirnya mewawancarai Tuang Molla dan seorang tokoh Sayyid yang saya lupa namanya -- dia berperan sebagai 'eksekutor'. Sang Sayyid eksekutor tersebut bertugas untuk melaksanakan keputusan adat komunitas Sayyid bagi mereka yang melanggar. Sebagian besar pelanggaran tersebut berkaitan dengan masalah pernikahan.
Adat di komunitas Sayyid di Cikoang tidak memperbolehkan laki-laki keturunan non-Sayyid menikahi perempuan keturunan Sayyid, namun laki-laki keturunan Sayyid bisa menikahi perempuan di luar komunitas mereka. Memang sangat patriarkal, namun begitulah adat mereka. Konsekuensinya, mereka yang melanggar harus bersedia meninggalkan Cikoang (dan daerah sekitarnya) dan mengangkut semua harta benda yang mereka miliki, termasuk rumah. Dalam pelaksanaan sanksi adat tersebut, para pelanggar adat akan diberikan peringatan hingga tiga kali dari dewan adat. Jika setelah peringatan ketiga para pelanggar adat tersebut tidak menghiraukan peringatan tersebut, maka eksekutor dan dewan adat -- dengan didukung kepatuhan masyarakat non Sayyid -- akan mengusir secara paksa para pelanggar, dan rumah mereka di Cikoang akan dirobohkan jika belum dipindahkan.
PPLH Puntondo
Wawancara kami berlangsung kurang lebih satu jam saja. Setelah itu, kami meluncur ke Puntondo, tepatnya di Pusat Perlindungan Lingkungan Hidup Puntondo. Irsak yang duduk di kursi depan mobil yang kami pakai membuat kami bisa masuk ke PPLH Puntondo secara gratis. Di sinilah dulu majalah-majalah NatGeo yang saya sebut di atas saya 'pinjam' -- hingga kini, hahaha. Namun yang jelas, tempat ini semakin hari semakin mempesona saja. Sayangnya saya tidak sempat mengambil banyak gambar.
Menjelang hari sore, kami pulang kembali ke Punaga. Namun sebelumnya kami singgah dulu di tempat yang dinamakan 'Barugaya'. Di tempat inilah Zainuddin dalam film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck tinggal dan meminta izin kepada Mak Basse, pengasuhnya, untuk berangkat ke Batipuh, Sumatera Barat, untuk belajar agama di kampung halaman almarhum ayahnya, Pandekar Sutan. Sayangnya hape saya lowbatt sehingga tidak ada gambar yang bisa saya ambil.

Seafood Punaga
Hal yang tidak bisa kami lewatkan di Punaga tentu saja: seafood. Saya baru sadar kalau ikan laut dianggap makanan yang cukup mewah bagi orang Jawa, terutama mereka yang jauh dari laut. Sedangkan kami di Makassar dan Sulawesi Selatan pada umumnya, setiap hari kami makan ikan laut -- ayam dalam berbagai bentuk olahan memiliki kedudukan yang lebih 'mewah'. Di rumah Irsak, kami betul-betul dihidangkan dengan seafood terenak di Sulawesi. Ikannya langsung kami beli di Punaga, sekitar 50 meter dari rumah Irsak. Kami juga makan ikan Pari!
Kami juga dihidangkan kelapa muda segar oleh Haji Noto. Pohon kelapa yang tingginya 15-20 meter itu biasanya dipanjat oleh anak berusia 10-14 tahun. Terima kasih kepada adik Ballacu' (ya, ini nama pemanjat kami) yang telah memanjat dua pohon kelapa dan membuat kami kekenyangan. Oh iya, ternyata si Ballacu' ini memang dikenal sebagai pemanjat kelapa. Anak yang kira-kira berusia 13 tahun ini diberi upah 5000 rupiah untuk setiap pohon kelapa yang dia panjat.
Akhirnya hari ketiga, 22 Januari 2017, kami meminta izin kepada Haji Sirajuddin Noto dan keluarga untuk pulang kembali ke Makassar. Keluarga ini betul-betul memegang prinsip orang Makassar dalam menghormati tamu: anda tidak bisa pulang sebelum betul-betul kenyang. Semoga kami bisa kembali lagi ke Punaga, sebuah surga tersembunyi di jemari kaki kiri Sulawesi Selatan.
Bontokaddopepe, 5 Februari 2017