Sumatera Barat: Museum Buya Hamka
Kunjungan ke Museum Buya Hamka di Sungai Batang, Danau Maninjau, Sumatera Barat - rumah kelahiran sastrawan besar Indonesia.

Pada pertengahan Juli 2016, saya kebetulan ada acara bersama alumni YSEALI Academic Fellows di Kuala Lumpur, Malaysia. Tiba-tiba saya berpikir kenapa tidak berkunjung ke Sumatera? Mumpung saya sedang di kota dengan penerbangan murah ke Sumatera, pikir saya. Saya memutuskan untuk datang ke Sumatera Barat (Sumbar) dan akhirnya berkunjung ke Lubuk Basung, Maninjau dan Bukittinggi. Mengapa Sumbar? Well, mungkin karena saya menulis tentang tokoh Sumbar, yaitu Buya Hamka, di skripsi saya. Jadilah akhirnya saya berangkat dari Kuala Lumpur ke Sumbar dengan membeli tiket pulang-pergi KL-Padang seharga kurang lebih 550.000 rupiah. Murah kan!

Fast forward, setelah menghabiskan semalam di Lubuk Basung bersama teman Couchsurfing saya, Rizky Kurniawan, kami berangkat ke Sungai Batang, sebuah nagari yang terletak di pinggir Danau Maninjau. Di Sungai Batang inilah Hamka lahir dan rumah kelahirannya itu yang dijadikan Museum Buya Hamka. Dari Lubuk Basung kami naik sepeda motor selama kurang lebih 80 menit. Dikarenakan letak Sungai Batang yang berada di sisi berseberangan dari Danau Maninjau, kami harus mengitari danau tersebut selama kurang lebih 45 menit. Setelah sempat bertanya kepada warga sekitar, akhirnya tibalah jua kami di Sungai Batang, di Museum Buya Hamka.

Ternyata museumnya belum buka, saudara-saudara! Akhirnya kami memutuskan untuk menunggu saja, sambil menonton pertunjukan gratis seekor beruk memetik buah kelapa di halaman rumah seberang museum. Di samping museum ini ada gedung kecil yang didedikasikan sebagai tempat membaca. Gedung tersebut ternyata merupakan sumbangan dari ABIM, alias Angkatan Belia Islam Malaysia. Perhatian yang diberikan ABIM ini patut diapresiasi.

Di depan museum ini ada sebuah rumah yang menjual buku-buku tentang atau ditulis oleh Hamka. Di sini saya membeli novel Terusir dan Merantau ke Deli. Dua-duanya karya Hamka. Akhirnya setelah menunggu kurang lebih sejam setengah, datanglah si penjaga museum. Kami berdua menjadi pengunjung pertama hari ini. Saya pun masuk dan memperkenalkan diri sebagai pengunjung dari Makassar.
Mari kita bicara soal museumnya..

Bangunan museum ini terdiri dari satu lantai saja dengan konstruksi sekitar 90% terdiri dari kayu. Di bawah lantai dasar tersebut ada sebuah ruang setinggi kurang lebih 130 cm. Kalau di Makassar, ruang seperti itu akan ditempati ayam atau anjing. 
Isi museumnya sendiri terkesan sederhana, diisi dengan foto-foto dan buku-buku karya Hamka dari berbagai edisi dan bahasa. Meski begitu, menurut saya museum ini cukup representatif untuk menggambarkan kehidupan Hamka. Di dinding kayu museum tersebut tertempel berupa-rupa piagam dan tanda penghargaan dari para pengunjung mancanegara.


Jika berkunjung ke museum, anda akan bertemu dengan pak Hanif Rasyid. Beliau adalah anak kandung dari A. R. Sutan Mansur yang berarti ia adalah keponakan Hamka. Sutan Mansur menikah dengan kakaknya Hamka yang perempuan. Pak Hanif Rasyid ini orangnya sangat ramah, dan anda bisa berbicara panjang lebar tentang sejarah Sumatera Barat serta tentang Hamka sendiri. Di meja registrasi itu ia juga menjual makalah terjilid yang tentang kehidupan Hamka yang ia susun sendiri. Di situ juga dijual sebuah CD (compact disk) yang berisi kumpulan ceramah Hamka di RRI dan tempat lain.
Secara umum, museum ini sudah hampir mendekati predikat representatif. Hal yang miris sebenarnya adalah ketika saya menanyakan sumber dana pengelolaan museum ini. Pak Hanif Rasyid mengaku bahwa dana pengelolaan museum didapatkan dari keluarga besar dan sumbangan pengunjung, sedangkan Pemerintah Kabupaten Agam sendiri belum pernah memberikan kontribusi ataupun bantuan kepada museum tersebut. Sayang sekali, pikirku, padahal organisasi semacam ABIM pun membantu, bahkan membangun sebuah bangunan sebagai tempat membaca buku.

Setelah berbincang kurang lebih dua jam, saya meminta izin ke pak Hanif untuk melanjutkan perjalanan ke Bukittinggi. Di perjalanan menuju Bukittinggi saya masih terpikir tentang museum ini. Bukan apa-apa, meskipun sejarawan James R. Rush pada Juni 2016 menerbitkan biografi baru tentang Hamka, namun kelihatannya kajian para sarjana sosial (terutama sejarawan) dari luar Indonesia semakin sedikit. Apalagi setelah sejarawan Jeffrey Hadler meninggal beberapa pekan lalu. Jadi jika Pemerintah Kabupaten Agam sendiri, atau bahkan Gubernur Irwan Prayitno tidak membantu secara langsung keberadaan museum semacam ini, sepertinya pantas saja jika minat para sejarawan dan ilmuwan sosial sudah tidak sekuat dulu pada Sumatera Barat.
Ketika mobil yang saya tumpangi terus menanjak dan melewati Kelok 44 menuju Bukittinggi, saya berdoa semoga ketika saya kembali lagi, keadaan sudah semakin baik.
Bontokaddopepe, 6 Februari 2017