Talk To Crew Historia: Masa Muda Buya Hamka di Makassar
Saya hadir di Historia.ID untuk memaparkan hasil riset tentang masa muda Buya Hamka, khususnya kiprahnya di Makassar yang menjadi fondasi pemikiran dan karya sastra fenomenalnya.

Saya diundang Historia.ID dalam program Talk To Crew untuk memaparkan hasil riset skripsi saya yang membahas sisi kehidupan Buya Hamka yang jarang disentuh biografi mainstream: masa muda dan kiprah emasnya di Makassar.
Pendidikan Minim, Intelektual Raksasa
Hamka hanya mengenyam pendidikan formal setingkat Sekolah Desa. Namun kunci keilmuannya terletak pada dua hal: akses ke perpustakaan ayahnya, Haji Rasul (ulama besar Minangkabau), dan kebiasaan membaca autodidak yang tak pernah padam. Ia menyerap ilmu dari literatur dan dari pergaulannya dengan orang-orang di sekelilingnya jauh lebih besar dari yang bisa diberikan bangku sekolah.
Berhaji di Usia 17 Tahun
Hamka berangkat ke Makkah pada usia 17 tahun, sebagian didorong oleh kondisi keluarga dan gejolak masa mudanya. Perjalanan laut menuju Jeddah sendiri sudah menjadi pelajaran berharga: ia berinteraksi dengan jamaah dari berbagai daerah, termasuk orang Makassar dan Pekalongan. Keragaman karakter manusia yang ia temui di kapal itu kelak menjadi inspirasi kuat dalam novel-novelnya.
Di Makkah, ia bekerja di sebuah toko kitab cetak besar. Posisi itu memberinya keleluasaan membaca berbagai kitab secara gratis dan memperluas wawasannya jauh melampaui yang bisa ia akses di kampung.
Pertemuan yang mengubah hidupnya terjadi di sana: H. Agus Salim memberikan nasihat tajam agar Hamka segera pulang. Makkah adalah tempat beribadah, kata Agus Salim, tapi jika Hamka ingin berjuang dan benar-benar menuntut ilmu dalam konteks pergerakan, tempatnya adalah di Hindia Timur. Nasihat itu yang memantapkan Hamka untuk pulang.
Jurnalis Muda yang Tajam
Sebelum dikenal sebagai ulama dan mufassir, Hamka adalah jurnalis. Sekembali dari Tanah Suci, ia menetap di Medan dan menulis untuk berbagai surat kabar: Pelita Andalas, Seruan Islam, dan Bintang Islam. Di usia belasan, kemampuan menulisnya sudah luar biasa. Ia bahkan terlibat dalam debat-debat publik di koran, dan yang menarik, setiap debatnya selalu berbasis data dan sumber tertulis yang kuat.
Kiprah di Makassar
Inilah inti dari riset saya. Sekitar tahun 1932, Hamka datang ke Makassar atas instruksi Muhammadiyah pusat untuk mempersiapkan kongres. Ia akhirnya menetap cukup lama di sana.
Ia tinggal di kawasan Jalan Sulawesi, dekat Benteng Fort Rotterdam, sebuah kawasan niaga yang hidup. Ia sangat membaur dengan karakter masyarakat Makassar yang dinamis.
Hamka tidak hanya duduk di kota. Ia melakukan safari dakwah dan organisasi menggunakan bus dan kapal ke hampir seluruh penjuru Sulawesi Selatan: Bulukumba, Bantaeng, Parepare, Sidrap, Palopo, hingga Toraja. Salah satu pencapaian terbesarnya adalah mengorganisasi Konferensi Muhammadiyah di Palopo yang dihadiri ribuan massa. Untuk ukuran kota kecil pada masa itu, itu pencapaian luar biasa.
Ia juga ikut meletakkan dasar pendidikan Islam modern di Sulawesi Selatan, termasuk mendirikan sekolah Muallimin Muhammadiyah di Makassar.
Makassar dalam Karya Sastranya
Tinggal di Sulawesi Selatan meninggalkan jejak yang sangat nyata dalam karya-karyanya.
Novel "Di Bawah Lindungan Ka'bah" ditulis saat Hamka berada di Makassar. Dan dalam "Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck", tokoh utama Zainuddin dikisahkan berdarah campuran: ayah Minang, ibu Mengkasar. Itu bukan kebetulan. Itu adalah bentuk kedekatan emosional dan intelektual Hamka terhadap kedua budaya yang pernah membentuknya.
Paket Lengkap
Diskusi ini menyimpulkan bahwa Hamka adalah anugerah yang langka bagi bangsa Indonesia. Dalam satu sosok terkumpul kemampuan seorang Ulama, Mufassir (Tafsir Al-Azhar), Filsuf, Sejarawan (Sejarah Umat Islam yang tebalnya ribuan halaman), Sastrawan pelopor, dan Jurnalis ulung. Masa mudanya yang penuh petualangan, terutama tahun-tahun formatifnya di Makassar, adalah kunci utama yang membentuk kedalaman pemikirannya.