🇬🇧Read in English

Muhammadiyah Studies Talk #5: Refleksi Hari Buku Nasional dan Tradisi Literasi Muhammadiyah

Saya bertindak sebagai moderator dalam forum diskusi ini yang membahas kondisi literasi nasional dan bedah buku 'Covering Muhammadiyah', diselenggarakan oleh MPI PWM Sulawesi Selatan.

Muh Ihsan Harahap
Muh Ihsan Harahap
··3 min read
Muhammadiyah Studies Talk #5: Refleksi Hari Buku Nasional dan Tradisi Literasi Muhammadiyah

Pada 18 Mei 2024, saya berkesempatan menjadi moderator dalam Muhammadiyah Studies Talk #5 yang diselenggarakan oleh Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan, di mana saya juga menjadi salah satu pengurus majelis tersebut. Acara ini disiarkan langsung melalui kanal tvMu Channel dalam rangka Hari Buku Nasional 2024.

Forum dua jam ini terbagi dalam dua sesi utama: keynote mengenai kondisi literasi nasional dan bedah buku sejarah pers Muhammadiyah.

Keynote: Kondisi Literasi Nasional

Prof. Aminuddin Aziz, Kepala Perpustakaan Nasional, membuka dengan fakta yang cukup mengejutkan. Mitos bahwa minat baca orang Indonesia rendah ternyata tidak benar. Survei menunjukkan minat baca sebenarnya tinggi, tapi rasio ketersediaan buku sangat timpang: satu buku ditunggu oleh 11 orang.

Yang lebih menarik adalah kritiknya terhadap "dosa berjamaah" dalam ekosistem perbukuan nasional. Penulis tidak meriset minat pembaca, penerbit asal terbitkan, dan perpustakaan menyediakan buku yang tidak relevan dengan kebutuhan masyarakat setempat. Semua pihak berkontribusi pada persoalan yang sama.

Soal buku cetak versus digital, riset membuktikan buku cetak jauh lebih efektif untuk retensi memori dan kecintaan membaca dibanding gawai. Sebagai solusi, Perpusnas meluncurkan program 10.000 ruang baca di desa-desa, masing-masing dibekali 1.000 judul buku bermutu secara gratis, plus izin penggunaan Dana Desa untuk operasional perpustakaan.

Bedah Buku: Covering Muhammadiyah

Bapak Muarif membedah buku yang menggali bagaimana media massa era kolonial merekam jejak gerakan Muhammadiyah. Temuannya dari arsip-arsip lama sangat menarik.

Pers Muhammadiyah di era kolonial ternyata sangat produktif. Pada masa awal berdirinya, Muhammadiyah sudah memiliki sekitar 94 media terbitan cetak, di antaranya Suara Muhammadiyah, Medan Muslimin, dan Bintang Islam.

Para jurnalis Muhammadiyah cerdik menghadapi sensor Belanda. Mereka menggunakan nama pena unik untuk menghindari delik pers. "Idagnas" ternyata ejaan terbalik dari "Sangadi", dan "namidramos" adalah "Sumardiman" yang dibalik.

Cara elegan menghadapi penistaan agama. Ketika surat kabar Jawihisworo di Solo menghina Nabi Muhammad, tokoh-tokoh Muhammadiyah tidak merespons dengan emosi atau anarkisme massa. Mereka memilih jalur hukum dan diplomasi dengan menyurati langsung Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

Muhammadiyah pelopor perbaikan haji. Sejak 1920, Muhammadiyah sudah menjadi motor penggerak pembentukan komite perbaikan perjalanan ibadah haji yang pengelolaannya saat itu sangat buruk.

Kata "Indonesia" sebelum Sumpah Pemuda. Tiga tahun sebelum Sumpah Pemuda 1928, sampul majalah Suara Muhammadiyah tahun 1925 sudah secara sadar dan berani menggunakan kata "Indonesia".

KH Ahmad Dahlan juga seorang penulis. Arsip membuktikan pendiri Muhammadiyah aktif menulis di Medan Muslimin dan Suara Muhammadiyah dengan inisial "Adil" atau "Khatib Amin Jogja". Beliau bukan sekadar man in action.

Refleksi para Pakar

Dr. Dahlan Lamabawa dan Dr. Fadli menambahkan perspektif penting: Suara Muhammadiyah yang mampu bertahan melintas tiga zaman (kolonial, Orde Lama/Baru, hingga era digital) adalah bukti nyata kuatnya akar literasi warga Muhammadiyah.

Yang lebih mengena: KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah pada 1912 salah satunya karena terinspirasi dari membaca majalah Al-Munir dari Padang Panjang sejak 1911. Organisasi ini lahir dari rahim literasi.

Literasi bukan sekadar program. Bagi Muhammadiyah, ia adalah salah satu dari empat matra "Islam Berkemajuan" yang sudah dipraktikkan sejak sebelum kemerdekaan.