Petualangan Sehari di Islamabad
Pengalaman mengunjungi Islamabad, Pakistan, dalam konferensi perdamaian PUAN dan menjelajahi Daman-e-Koh, Saidpur, Pakistan Monument, dan Faisal Mosque dalam sehari.

Tulisan ini sebelumnya terbit dalam Majalah Lentera edisi I, Januari 2018
Pada tanggal 2-7 Agustus 2017 lalu, saya berkesempatan untuk mengunjungi Islamabad, Pakistan. Perjalanan ini cukup menarik minat saya karena ia merupakan kali pertama saya berkunjung ke Asia Selatan.
Tujuan saya di Islamabad adalah untuk menghadiri konferensi perdamaian yang diadakan oleh PUAN (Pakistan-US Alumni Network) dan Kedutaan Amerika Serikat di Pakistan. Saya hadir bersama dua orang peserta lainnya yang diundang dari Indonesia: Badrus Sholeh dari UIN Jakarta, Alijah Diete dari Yayasan Prasasti Perdamaian.
Setelah menempuh perjalanan tiga jam dari Jakarta ke Bangkok, kami melanjutkan penerbangan hampir enam jam menuju Islamabad. Kami sampai di Bandara Internasional Benazir Bhutto pada tengah malam.
Bandara dengan fasilitas yang sangat terbatas dan menurut saya cenderung tidak dikelola dengan profesional, buktinya terjadi empat kali mati lampu di bandara ini ketika saya pulang kembali ke Bangkok.
Perkiraan saya tentang situasi keamanan di Islamabad terbukti: kami melewati jalan tol dengan tiga portal yang dijaga aparat membawa senjata laras panjang.
Hal yang tak kalah menegangkan kami alami ketika tiba di depan pintu gerbang hotel. Sebanyak empat orang aparat bersenjata memeriksa mobil yang kami tumpangi. Mereka membuka kap mesin depan, bagasi belakang dan bagian bawah mobil. Maklum saja, hotel yang akan kami tempati pernah diserang bom mobil pada 2008.
Setelah konferensi yang berlangsung hingga tanggal 6, saya otomatis hanya memiliki satu hari yang lowong untuk mengunjungi berbagai tempat menarik di Islamabad.
Atas bantuan seorang teman Indonesia yang pernah tinggal di Islamabad, saya dijemput oleh Abdullah, teman Indonesia lain yang sedang belajar di IIUI (International Islamic University of Islamabad). Saya berangkat bersama Abdullah dengan memakai motor dari hotel menuju kampus utama IIUI.
Hal yang menarik di Islamabad adalah anda tidak diwajibkan untuk memakai helm jika anda hanya penumpang.
Setelah kurang lebih 30 menit melalui jalan-jalan Islamabad yang lebar dan indah, akhirnya tibalah saya di kampus lama IIUI. Abdullah mengajak saya ke kantin asrama mahasiswa IIUI untuk bertemu dan berdiskusi singkat dengan beberapa mahasiswa Indonesia yang lain.
Dikarenakan cuaca yang panas, kami beristirahat sebentar di kamar milik Syuaib, mahasiswa asal Bulukumba yang telah 8 tahun di Islamabad. Saya berkenalan pula dengan Firos asal Jakarta yang baru saja menyelesaikan S1 bidang Islamic Studies.

Daman-e-Koh
Setelah salat zuhur, saya bersama Syuaib dan Firos berangkat ke tujuan pertama kami yaitu Daman-e-Koh, sebuah puncak bukit yang terletak di Margalla Hills National Park di bagian utara kota Islamabad.
Daman-e-koh adalah tempat paling tepat untuk melihat kota Islamabad dari titik ketinggian. Dari sana, kita bisa melanjutkan perjalanan ke Pir Sohawa yang letaknya lebih tinggi.

Di Daman-e-koh kita bisa melihat bentangan lurus jalan Seventh Avenue sepanjang 4 kilometer. Namun anda harus hati-hati, terutama jika anda membawa bekal: puluhan monyet berkeliaran siap mencoleng bekal anda.
Bukan hanya Daman-e-koh yang menarik, tetapi juga perjalanan menuju ke sana yang berkelok, menanjak, dilengkapi pemandangan alam yang indah.
Saidpur
Memang tidak bohong penulis Khaled Hosseini ketika menggambarkan tentang Daman-e-Koh dalam novelnya, The Kite Runner. Setelah menikmati pemandangan Daman-e-koh, kami berkendara kembali, menuruni bukit menuju lembah. Di sana ada sebuah desa tua nan bersejarah bernama Saidpur.
Desa ini dinamakan Saidpur untuk mengenang Sultan Said Khan, putra dari Sultan Sarang Khan, seorang pemimpin region Pothohar di bawah kekuasaan Babur, raja dan pendiri Dinasti Mughal yang terkenal itu.
Said Khan kemudian menghadiahkan desa ini untuk putrinya yang kemudian dinikahi oleh raja Dinasti Mughal, Jahangir, anak dari raja Akbar (Abul Fath Jalaluddin Muhammad Akbar atau Akbar The Great) yang di Indonesia kita kenal lewat serial televisi Jodha Akbar.

Kunjungan saya ke Saidpur adalah yang paling berkesan. Suasana desa bersejarah dimana terdapat kuil Hindu dan gurdwara Sikh seolah melemparkan kita kepada lima abad yang lalu, ketika Akbar sang penguasa Dinasti Mughal memerintah dan mencoba upaya sinkretisasi ajaran Islam dan Hindu, dipadu dengan nilai-nilai agama Kristen, Jainisme, Sikh dan Zoroastrianism.

Saya selalu tertarik melihat bagaimana rumitnya upaya sang raja untuk mewujudkan harmoni dan toleransi di antara rakyatnya. Akbar bukan hanya menciptakan harmoni (dan tentu saja kontroversi), namun juga mendorong debat-debat agama dan filsafat di dalam masyarakatnya.
Pakistan Monument
Dari Saidpur, kami bertiga berangkat ke Pakistan Monument yang terletak di puncak perbukitan Shakarparian. Setelah menempuh perjalanan 10 km yang menanjak dan membelah hutan, kami sampai di sana.

Pakistan Monument adalah simbol persatuan rakyat Pakistan. Bentuknya seperti kelopak bunga yang siap mekar. Terdapat empat struktur melengkung setinggi 15 meter yang keempat ujungnya bertemu di tengah.
Jika kita berdiri tepat di bawah struktur itu, kita bisa melihat sejarah perjalanan negara Pakistan.
Di bagian dalam empat struktur melengkung yang terbuat dari granit itu kita juga bisa melihat mural dari tokoh-tokoh penting Pakistan seperti Muhammad Ali Jinnah, pendiri negara Pakistan, serta Muhammad Iqbal, sastrawan dan pemikir penting dunia Islam asal Pakistan.
Di dalam komplek Pakistan Monument ini terdapat pula sebuah museum yang cukup besar. Sayangnya, ketika kami berkunjung ke sana museumnya sedang tutup.
Seperti tempat publik lain di Islamabad, terdapat sebuah sumur untuk mengambil air wudhu bagi mereka yang ingin menunaikan salat.
Di dalam kompleks ini terdapat pula sebuah toko souvenir. Saya membeli sebuah miniatur tembaga berbentuk Pakistan Monument seharga 300 rupee, setara dengan 30 ribu rupiah.
Tepat di luar pintu gerbang Pakistan Monument, puluhan pedagang kaki lima menjajakan barang mereka. Seperti di negeri kita, pemerintah Pakistan mempunyai aturan tentang para pedagang ini.
Ketika kami melangkah keluar gerbang untuk pulang, para pedagang yang menggunakan gerobak ini berhamburan lari ke dalam hutan ketika melihat aparat yang ingin melakukan razia datang.
Faisal Mosque
Mengingat matahari menjelang terbenam, kami memutuskan kembali ke kampus IIUI. Namun sebelum sampai di IIUI, kami singgah di Faisal Mosque. Kami memarkir motor di pinggir jalan bersama kendaraan lain yang terparkir liar.
Setelah puas mengambil gambar, kami mendapati motor milik Syuaib hilang. Kami segera melapor ke pos polisi terdekat. Ternyata motor tersebut diangkut petugas karena melakukan tindakan pelanggaran ringan: memarkir kendaraan di sembarang tempat.
Awalnya ngeri juga melakukan negosiasi agar motor tersebut dikembalikan. Penyebabnya tentu saja karena polisi di Pakistan membawa senjata laras panjang hampir dimana saja, setidaknya seperti yang saya lihat.
Namun akhirnya motor tersebut dikembalikan setelah saya menjelaskan bahwa saya membutuhkannya untuk pulang kembali ke hotel dan harus berada di bandara pada pukul 9 malam nanti. Mengetahui bahwa Syuaib adalah mahasiswa Indonesia, petugas tersebut akhirnya mengembalikan motor kami.
Kami pun memarkir motor di parkiran resmi Faisal Mosque dan segera mengambil wudhu untuk bergabung dengan jamaah yang hendak menunaikan salat masjid.

Faisal Mosque adalah masjid terbesar di Pakistan, sumbangan 120 juta dolar AS dari mendiang Raja Faisal dari Arab Saudi pada tahun 1976. Dirancang oleh arsitek Turki Vedat Dalokay, masjid ini berbentuk kubah raksasa seperti tenda orang-orang Badui, dilengkapi dengan menara setinggi 79 meter.
Seperti yang kami alami di Daman-e-koh, Saidpur dan Pakistan Monument, wajah kami menjadi perhatian bagi orang-orang Pakistan. Sekelompok pengunjung di Daman-e-koh bahkan meminta untuk berfoto bersama kami -- mengira kami adalah sekelompok turis dari Cina.
Setelah menunaikan salat dan berfoto di depan Faisal Mosque, kami segera mengambil langkah menuju asrama kampus IIUI. Faisal Mosque ini letaknya persis di depan gerbang kampus lama tersebut, sehingga kami hanya perlu tiga menit untuk sampai.

Setelah tiba di asrama, saya segera bertemu Abdullah, berpamitan kepada sahabat baru, Firos dan Syuaib, dan segera meluncur ke hotel Marriott untuk mengambil koper.
Setiba dari hotel, saya baru tahu bahwa saya adalah peserta terakhir yang ada di sana. Sekira 200 orang peserta konferensi telah berpulang ke tempat mereka masing-masing di seluruh Pakistan, termasuk peserta dari Afganishtan, Bangladesh, Turki dan Indonesia.
Dari sana saya diantar pihak hotel untuk menuju Bandara Benazir Bhutto di Rawalpindi, take off pukul 23.20 menuju Bangkok, kemudian Jakarta. Pada 8 Agustus, pukul 20.00 WITA, saya telah tiba dengan aman di Makassar dengan membawa pengalaman mengunjungi tempat menarik di Islamabad dalam sehari.