๐Ÿ‡ฌ๐Ÿ‡งRead in English

Pasar Pagi Tradisional Rantepao: Rasa Syukur dan Integrasi

Kunjungan ke pasar pagi tradisional Rantepao di Toraja, menjelajahi beragam komoditas, makna budaya, dan semangat syukur para pedagang pasar.

Muh Ihsan Harahap
Muh Ihsan Harahap
ยทยท3 min read
Pasar Pagi Tradisional Rantepao: Rasa Syukur dan Integrasi

Awalnya diterbitkan di blog "In Search of Makassar and Toraja" (School of Arts and Social Sciences, Monash University Malaysia). Ditulis oleh Muh Ihsan Harahap. Foto oleh penulis.

Rantepao, 1 Desember 2014

Pukul 5 pagi, saya bangun dari tidur. Setelah melaksanakan shalat Subuh, saya memutuskan untuk mengunjungi Pasar Pagi Tradisional Rantepao, yang terletak sekitar 100 meter dari penginapan kami di Wisma Monton. Sebagian warga setempat menyebut pasar ini "Pasar Pagi Sayur-Mayur". Disebut "pasar pagi" karena aktivitas jual beli hanya berlangsung dari pukul 5 pagi hingga 11 siang. Namun, sebutan "sayur-mayur" bisa menyesatkan bagi pengunjung pertama dan wisatawan, yang mungkin mengira hanya sayuran yang dijual di sana.

Kenyataannya, pasar ini menawarkan beragam komoditas selain sayuran: berbagai jenis ikan, kopi Toraja, rempah-rempah, buah-buahan, daging babi, daging kerbau, telur, tahu, tempe, dan warung-warung kecil berukuran sekitar 3x2 meter.

Pasar-pasar tradisional Toraja telah mengalami perubahan regulasi. Pemerintah daerah kini mengelola pasar-pasar tradisional Toraja, yang dibagi menjadi lima kelompok. Empat kelompok besar dikelola langsung oleh pemerintah, sementara pasar-pasar yang lebih kecil dikelola oleh desa setempat. Dua pasar utama โ€” Pasar Makale dan Pasar Bolu โ€” beroperasi dengan jadwal mingguan bergilir, masing-masing menarik sekitar 1.500 hingga 5.000 pengunjung harian. Pasar pagi Rantepao diklasifikasikan sebagai pasar tradisional "Kelas II", beroperasi lima hari seminggu.

Pak Petrus di warungnya Pak Petrus

Sebuah warung yang menjual daging dalam jumlah besar menarik perhatian saya. Baru setelah Pak Petrus bertanya apakah saya beragama Kristen, saya menyadari bahwa saya sedang melihat daging babi. Pak Petrus menjelaskan bahwa ia berjualan daging lima hari seminggu di pasar pagi, sementara Pasar Bolu menangani penjualan di hari-hari lain. Biasanya, satu ekor babi besar disembelih setiap hari, meskipun permintaan bisa melonjak hingga lima ekor. Pak Petrus tinggal hanya 1 km dari pasar, sehingga biaya transportasinya terjangkau.

Saya teringat tulisan sejarawan Terance W. Bigalke tentang bagaimana pasar-pasar tradisional Toraja berfungsi bukan sekadar sebagai ruang komersial, tetapi sebagai tempat integrasi antara berbagai kelompok etnis. Ini menjelaskan mengapa pedagang daging babi dan daging kerbau bisa beroperasi berdampingan tanpa masalah.

Pak Yunus di warungnya Pak Yunus

Pak Yunus menjual ikan bandeng di pasar, mengangkut sekitar 75-80 kilogram setiap hari ke warungnya. Ikan bandeng tetap menjadi pilihan populer karena orang Sulawesi Selatan secara konsisten menyukainya, dan karena dibudidayakan di tambak, ketersediaannya terjamin sepanjang tahun tanpa terpengaruh cuaca musiman. Pak Yunus memiliki empat orang anak dan mengungkapkan rasa bangga serta syukur yang mendalam bahwa pekerjaannya mampu menopang pendidikan anak-anaknya โ€” anak sulungnya saat ini duduk di bangku SMA.

Ketika saya bertanya tentang harapannya untuk pasar, Pak Yunus merespons dengan antusias tentang renovasi atap baru-baru ini oleh pemerintah. Atap baru dengan rangka baja membuat para pedagang sangat gembira, dan mereka mengungkapkan rasa terima kasih yang tulus atas perbaikan tersebut.

Atap baru pasar Atap baru pasar

Pengamatan ini memunculkan sebuah refleksi: rasa syukur dan kesederhanaan adalah sumber kebahagiaan. Para pedagang pasar bersukacita atas sesuatu yang mungkin tampak sebagai perbaikan sederhana โ€” sebuah atap baru โ€” menunjukkan kapasitas untuk menghargai yang mungkin tidak dimiliki banyak dari kita. Rasa syukur tulus mereka atas hal seperti itu mungkin merupakan sumber kebahagiaan yang sesungguhnya.

Kunjungan ke pasar pagi ini menjadi salah satu pengalaman paling berkesan selama waktu saya di Toraja, memberikan pelajaran berharga tentang interaksi sosial yang melampaui sekadar transaksi komersial.