Resensi Buku: Twilight Over Burma, karya Inge Sargent

Resensi buku Twilight Over Burma: My Life as a Shan Princess karya Inge Sargent - kisah nyata seorang gadis Austria yang menjadi putri kerajaan Shan di Burma.

Muh Ihsan Harahap
Muh Ihsan Harahap
··2 min read
Resensi Buku: Twilight Over Burma, karya Inge Sargent

Judul: Twilight Over Burma: My Life as a Shan Princess Penulis: Inge Sargent Penerbit: University of Hawaii Press, Honolulu, Hawaii Tebal: xxiv + 216 halaman Tahun terbit: 1994 Harga: + USD 5

Buku pembuka saya tahun ini, Twilight Over Burma: My Life as a Shan Princess, karya Inge Sargent.

Sampul buku Twilight Over Burma: My Life as a Shan Princess karya Inge Sargent

Sebuah kisah nyata. Buku ini diterbitkan oleh University of Hawai'i Press, 1994. Sebuah film telah dibuat dengan judul yang sama pada Mei 2016 -- filmnya dicekal di Myanmar dan Thailand.

Inge Eberhard (Sargent), penulis buku Twilight Over Burma

Pada 1951, Inge Eberhard, seorang gadis yang berasal dari Carinthia, Austria, mendapatkan beasiswa Fulbright dari Pemerintah Amerika Serikat untuk belajar di Universitas Denver, Colorado. Suatu hari di perjamuan makan malam, ia bertemu dengan Sao Kya Seng (1924-1962), mahasiswa dari Colorado School of Mines

Sao Kya Seng, Prince of Hsipaw, Shan State, Burma, Universitas Denver yang berasal dari Hsipaw, Shan State, Burma (sekarang: Myanmar).

Inge Eberhard dan Sao Kya Seng, pasangan yang menjadi inti kisah Twilight Over Burma

Pada awal Januari 1954, mereka pulang ke Burma dengan kapal SS Warwickshire. Ketika sampai di Hsipaw, Sao Kya Seng dilantik kembali sebagai Prince of Hsipaw pada tahun 1959, dan Inge Eberhard sebagai Princess of Hsipaw, dengan nama baru: Nao Sang Thusandi.

Foto keluarga Sao Kya Seng dan Inge di Hsipaw, Burma

Ia ditangkap pada 1962, setelah kudeta militer yang dipimpin Jenderal Ne Win.

Inge Sargent di masa kini, masih dianggap sebagai Mahadewi oleh orang-orang Shan

Pada 1966, Inge pindah ke Amerika Serikat. Ia kemudian mendirikan organisasi yang berfokus menangani pengungsi dari Burma, dan masih dianggap orang-orang Shan sebagai Mahadewi mereka.

Bontokaddopepe, 5 Februari 2017